Saya memiliki dua orang buah hati, anak pertama pria dan anak kedua wanita.
Si Abang, itu panggilan anak pertama, dan Si Ade adalah panggilan anak kedua. Anak saya tumbuh sehat dan memiliki intelijensi yang lumayan bagus. Keduanya memiliki kemampuan yang sama dan watak yang tidak jauh berbeda, namun ada perbedaan mencolok yaitu Si Ade memiliki kebiasaan menggunakan tangan kirinya atau biasa di sebut KIDAL.
Saat berusia 2 tahun, saya belum menyadari kalau Si Ade adalah KIDAL, karena menurut saya kebiasaan menggunakan tangan kiri adalah memang kebiasaan anak balita, semua aktivitasnya pasti menggunakan tangan kiri, memegang dot, minum, bermain, semuanya menggunakan tangan kiri. Lumrah !!! itu yang terpikir oleh saya pada saat itu.
Ketika beranjak usia 3 tahun, Si Ade mulai belajar menulis dan menggambar, tapi ternyata diluar dugaan saya Si Ade benar - benar menulis dengan tangan kirinya, bahkan cara menulis dan arah menulis juga terbalik, Si Ade menulis dari sebelah kanan sama seperti ketika kita menulis huruf Arab !!. Bahkan guratan dan arah cara menulisnya-pun terbalik, hurupnya-pun terbalik, hurup "a" menghadap kanan, hurup "b" malah menjadi hurup "d", hurup "d" menjadi "b", pokoknya semua hurup menjadi berbalik arah, seperti kita menulis lalu di cerminkan. Guratan menulis juga di mulai dari sebelah kanan, berbeda dengan kita yang memulai guratan menulis di mulai dari sebelah kiri. Ya Allah, saya berpikir saat itu apa iya memang seperti ini anak KIDAL ??.
Kebingungan dan rasa heran saya belum selesai, Si Ade juga memiliki kebiasaan tidur yang berbeda, Si Ade tidur menghadap arah yang terbalik pula. Kami tidur menghadap barat, sedangkan Si Ade tidur menghadap timur, jadi ketika tidur bersama, kepala Si Ade berada di kaki kami bertiga. Seringkali saya membalikkan arah tidur Si Ade saat dia pulas, tapi ketika bangun pagi, Si Ade sudah pada posisi terbalik lagi.
Berulangkali saya menasihati kalau posisi tidurnya salah, namun dia malah menangis, dan tidak bisa tidur, ya sudahlah akhirnya sampai sekarang dia tetap pada posisi tidur yang terbalik, dan kami mengalah, membiarkan dia tidur sendiri tanpa kami, kasihan juga kalau tidur bersama, kepala dia suka "ketendang" oleh kami.
Nonton TV juga awalnya terbalik, dia nonton dengan arah yang terbalik, tapi bersyukur itu tidak berlangsung lama, usia 4 tahun dia sudah menonton TV secara normal, namun posisi tidur masih tetap terbalik. Untuk makan, saya meyuruhnya menggunakan tangan kanan, dan untuk (*maaf) cebok saya menyuruhnya menggunakan tangan kiri, dan itu sudah di lakukannya, meskipun saya tahu dia sangat kerepotan saat makan menggunakan tangan kanan.
Usia 4 tahun, Si Ade saya daftarkan sekolah TK, namun sebelumnya saya memberitahukan kepada guru - gurunya, bahwa anak saya memiliki kebiasaan beraktivitas dengan tangan kiri, dan saya memohon agar di sekolah tersebut anak saya bisa merubah kebiasaannya. para guru-pun menyanggupi permohonan saya dan akan membantu supaya Si Ade bisa menggunakan tangan kanannya untukberaktivitas.
Pada suatu hari saat akan berangkat sekolah Si Ade tidak seperti biasanya menangis, matanya berkaca - kaca, saya bertanya ada apa, dan apa yang terjadi, namun dia hanya menangis, tanpa menjawab. Saya pikir mungkin dia sedang gak mod sekolah, lalu saya antarkan dia sekolah. Hari berikutnya dan hari selanjutnya Si Ade selalu menangis saat akan berangkat sekolah, akhirnya saya paksa dia untuk menjawab, kenapa dan apa yang menyebabkan dia selalu menangis, dengan mata yang berkaca - kaca dan dengan suara pelan dia menjawab; "Mah, Ade gak boleh masuk kelas kalau masih menulis dengan tangan kiri, Ade kan gak bisa menulis dengan tangan kiri....". Saya kaget, merasa sangat terpukul, sakit hati, kecewa, kasihan, rasa kesal terhadap gurunya dan rasa kasihan terhadap anak saya bercampur jadi satu, saya peluk Si Ade, saya belai rambutnya, saya usap air matanya, dan saya katakan kepadanya; "Ade, mamah sayang kamu, mamah gak mau kamu tertekan karena kamu berbeda dengan yang lain".
Saya berangkat bersama Si Ade, sesampainya di sekolah, saya langsung menghadap para guru, saya sampaikan apa yang terjadi terhadap anak saya, dan saya memohon kepada mereka agar memberikan kebebasan terhadap anak saya, biarkan dia menggunakan tagan kirinya untuk beraktivitas dan jangan paksakan untuk menggunakan tangan kanan, merekapun memahaminya dan mulai saat itu Si Ade tidak pernah lagi menangis, murung lagi saat akan berangkat sekolah.
Di sekolah TK, Si Ade memiliki prestasi yang lumayan, menjadi juara melukis, juara menari, juara membaca puisi antar sekolah TK, banyak cerita unik dan lucu saat saya mengikuti semua kegiatan di kejuaraan tersebut, misalnya saat mengikuti lomba melukis, banyak ibu - ibu orang tua murid membicarakan anak saya, karena melukisnya menggunakan tangan kiri, mencoret - coret kanvas dari sebelah kanan, saya hanya bisa tersenyum dan terharu, apalagi saat anak saya naik ke podium untuk menerima piala dan penghargaan, tak terasa air mata menetes di pipi, di dalam hati saya berkata; "Ya Allah, jika memang KIDAL itu bukanlah suatu keburukan, maka tunjukanlah kepadaku, dan jika KIDAL itu suatu keburukan, maka maafkanlah aku".
Pada usia 6 tahun, Si Ade di daftarkan sekolah SD, seperti yang saya lakukan sebelumnya, di tempat sekolah SD tersebut, saya memberitahukan kepada para guru bahwa anak saya KIDAL, melakukan semua aktivitas dengan tangan kiri, dan saya memohon supaya tidak memaksakan apalagi menekan anak saya supaya melakukan aktivitas dengan tangan kanan, para guru mengiyakan permintaan saya, mereka tidak akan memaksa dan menekan anak saya karena memang KIDAL bukanlah suatu kekurangan, bahkan mereka memberikan contoh bahwa banyak anak KIDAL yang memiliki kelebihan dan tidak di miliki oleh orang yang bukan KIDAL. Saat itu saya merasa tenang karena mereka dengan lapang dada menerima anak saya.
Waktu terus berjalan, Si Ade seperti biasanya mengikuti pelajaran sekolah, membaca, menulis, bernyanyi, dan bermain. Di sekolah SD-pun anak saya memiliki prestasi yang baik, mengikuti perlombaan menari, melukis, dan musik, meskipun tidak juara namun saya tetap bahagia karena anak saya mampu bersaing dengan anak yang bukan KIDAL.
Saya berharap Si Ade menjadi anak yang bisa mengalahkan stigma negatif terhadap anak KIDAL, saya menginginkan anak saya mampu menunjukkan pada orang lain bahwa KIDAL bukanlah penghalang untuk berprestasi, meskipun saya juga masih berharap bahwa kelak dia menjadi anak yang bukan KIDAL.
Bagi anda yang memiliki memiliki anak KIDAL, atau anda adalah seorang KIDAL, janganlah paksakan untuk menjadi bukan KIDAL, tunjukanlah bahwa KIDAL bukanlah penghalang untuk meraih prestasi, tunjukanlah bahwa KIDAL bukanlah suatu kekurangan. KIDAL adalah takdir Tuhan, meskipun saya tahu bahwa tangan kanan adalah lebih baik dari tangan kiri. Biarkanlah "Si KIDAL" menjadi anak yang menjadi dirinya sendiri, tanpa harus memaksakan yang membuatnya menjadi tertekan, stress, kurang percaya diri dengan KIDAL-nya.
Semoga tulisan ini menjadi pemicu orang tua yang memiliki anak dengan tangan KIDAL, dan menjadi motivasi pemilik tangan KIDAL untuk terus berprestasi, percaya diri dengan perbedaannya.
-Refana Zahra Arthavi-
Si Abang, itu panggilan anak pertama, dan Si Ade adalah panggilan anak kedua. Anak saya tumbuh sehat dan memiliki intelijensi yang lumayan bagus. Keduanya memiliki kemampuan yang sama dan watak yang tidak jauh berbeda, namun ada perbedaan mencolok yaitu Si Ade memiliki kebiasaan menggunakan tangan kirinya atau biasa di sebut KIDAL.
Saat berusia 2 tahun, saya belum menyadari kalau Si Ade adalah KIDAL, karena menurut saya kebiasaan menggunakan tangan kiri adalah memang kebiasaan anak balita, semua aktivitasnya pasti menggunakan tangan kiri, memegang dot, minum, bermain, semuanya menggunakan tangan kiri. Lumrah !!! itu yang terpikir oleh saya pada saat itu.
Ketika beranjak usia 3 tahun, Si Ade mulai belajar menulis dan menggambar, tapi ternyata diluar dugaan saya Si Ade benar - benar menulis dengan tangan kirinya, bahkan cara menulis dan arah menulis juga terbalik, Si Ade menulis dari sebelah kanan sama seperti ketika kita menulis huruf Arab !!. Bahkan guratan dan arah cara menulisnya-pun terbalik, hurupnya-pun terbalik, hurup "a" menghadap kanan, hurup "b" malah menjadi hurup "d", hurup "d" menjadi "b", pokoknya semua hurup menjadi berbalik arah, seperti kita menulis lalu di cerminkan. Guratan menulis juga di mulai dari sebelah kanan, berbeda dengan kita yang memulai guratan menulis di mulai dari sebelah kiri. Ya Allah, saya berpikir saat itu apa iya memang seperti ini anak KIDAL ??.
Kebingungan dan rasa heran saya belum selesai, Si Ade juga memiliki kebiasaan tidur yang berbeda, Si Ade tidur menghadap arah yang terbalik pula. Kami tidur menghadap barat, sedangkan Si Ade tidur menghadap timur, jadi ketika tidur bersama, kepala Si Ade berada di kaki kami bertiga. Seringkali saya membalikkan arah tidur Si Ade saat dia pulas, tapi ketika bangun pagi, Si Ade sudah pada posisi terbalik lagi.
Berulangkali saya menasihati kalau posisi tidurnya salah, namun dia malah menangis, dan tidak bisa tidur, ya sudahlah akhirnya sampai sekarang dia tetap pada posisi tidur yang terbalik, dan kami mengalah, membiarkan dia tidur sendiri tanpa kami, kasihan juga kalau tidur bersama, kepala dia suka "ketendang" oleh kami.
Nonton TV juga awalnya terbalik, dia nonton dengan arah yang terbalik, tapi bersyukur itu tidak berlangsung lama, usia 4 tahun dia sudah menonton TV secara normal, namun posisi tidur masih tetap terbalik. Untuk makan, saya meyuruhnya menggunakan tangan kanan, dan untuk (*maaf) cebok saya menyuruhnya menggunakan tangan kiri, dan itu sudah di lakukannya, meskipun saya tahu dia sangat kerepotan saat makan menggunakan tangan kanan.
Usia 4 tahun, Si Ade saya daftarkan sekolah TK, namun sebelumnya saya memberitahukan kepada guru - gurunya, bahwa anak saya memiliki kebiasaan beraktivitas dengan tangan kiri, dan saya memohon agar di sekolah tersebut anak saya bisa merubah kebiasaannya. para guru-pun menyanggupi permohonan saya dan akan membantu supaya Si Ade bisa menggunakan tangan kanannya untukberaktivitas.
Pada suatu hari saat akan berangkat sekolah Si Ade tidak seperti biasanya menangis, matanya berkaca - kaca, saya bertanya ada apa, dan apa yang terjadi, namun dia hanya menangis, tanpa menjawab. Saya pikir mungkin dia sedang gak mod sekolah, lalu saya antarkan dia sekolah. Hari berikutnya dan hari selanjutnya Si Ade selalu menangis saat akan berangkat sekolah, akhirnya saya paksa dia untuk menjawab, kenapa dan apa yang menyebabkan dia selalu menangis, dengan mata yang berkaca - kaca dan dengan suara pelan dia menjawab; "Mah, Ade gak boleh masuk kelas kalau masih menulis dengan tangan kiri, Ade kan gak bisa menulis dengan tangan kiri....". Saya kaget, merasa sangat terpukul, sakit hati, kecewa, kasihan, rasa kesal terhadap gurunya dan rasa kasihan terhadap anak saya bercampur jadi satu, saya peluk Si Ade, saya belai rambutnya, saya usap air matanya, dan saya katakan kepadanya; "Ade, mamah sayang kamu, mamah gak mau kamu tertekan karena kamu berbeda dengan yang lain".
Saya berangkat bersama Si Ade, sesampainya di sekolah, saya langsung menghadap para guru, saya sampaikan apa yang terjadi terhadap anak saya, dan saya memohon kepada mereka agar memberikan kebebasan terhadap anak saya, biarkan dia menggunakan tagan kirinya untuk beraktivitas dan jangan paksakan untuk menggunakan tangan kanan, merekapun memahaminya dan mulai saat itu Si Ade tidak pernah lagi menangis, murung lagi saat akan berangkat sekolah.
Di sekolah TK, Si Ade memiliki prestasi yang lumayan, menjadi juara melukis, juara menari, juara membaca puisi antar sekolah TK, banyak cerita unik dan lucu saat saya mengikuti semua kegiatan di kejuaraan tersebut, misalnya saat mengikuti lomba melukis, banyak ibu - ibu orang tua murid membicarakan anak saya, karena melukisnya menggunakan tangan kiri, mencoret - coret kanvas dari sebelah kanan, saya hanya bisa tersenyum dan terharu, apalagi saat anak saya naik ke podium untuk menerima piala dan penghargaan, tak terasa air mata menetes di pipi, di dalam hati saya berkata; "Ya Allah, jika memang KIDAL itu bukanlah suatu keburukan, maka tunjukanlah kepadaku, dan jika KIDAL itu suatu keburukan, maka maafkanlah aku".
Pada usia 6 tahun, Si Ade di daftarkan sekolah SD, seperti yang saya lakukan sebelumnya, di tempat sekolah SD tersebut, saya memberitahukan kepada para guru bahwa anak saya KIDAL, melakukan semua aktivitas dengan tangan kiri, dan saya memohon supaya tidak memaksakan apalagi menekan anak saya supaya melakukan aktivitas dengan tangan kanan, para guru mengiyakan permintaan saya, mereka tidak akan memaksa dan menekan anak saya karena memang KIDAL bukanlah suatu kekurangan, bahkan mereka memberikan contoh bahwa banyak anak KIDAL yang memiliki kelebihan dan tidak di miliki oleh orang yang bukan KIDAL. Saat itu saya merasa tenang karena mereka dengan lapang dada menerima anak saya.
Waktu terus berjalan, Si Ade seperti biasanya mengikuti pelajaran sekolah, membaca, menulis, bernyanyi, dan bermain. Di sekolah SD-pun anak saya memiliki prestasi yang baik, mengikuti perlombaan menari, melukis, dan musik, meskipun tidak juara namun saya tetap bahagia karena anak saya mampu bersaing dengan anak yang bukan KIDAL.
Saya berharap Si Ade menjadi anak yang bisa mengalahkan stigma negatif terhadap anak KIDAL, saya menginginkan anak saya mampu menunjukkan pada orang lain bahwa KIDAL bukanlah penghalang untuk berprestasi, meskipun saya juga masih berharap bahwa kelak dia menjadi anak yang bukan KIDAL.
Bagi anda yang memiliki memiliki anak KIDAL, atau anda adalah seorang KIDAL, janganlah paksakan untuk menjadi bukan KIDAL, tunjukanlah bahwa KIDAL bukanlah penghalang untuk meraih prestasi, tunjukanlah bahwa KIDAL bukanlah suatu kekurangan. KIDAL adalah takdir Tuhan, meskipun saya tahu bahwa tangan kanan adalah lebih baik dari tangan kiri. Biarkanlah "Si KIDAL" menjadi anak yang menjadi dirinya sendiri, tanpa harus memaksakan yang membuatnya menjadi tertekan, stress, kurang percaya diri dengan KIDAL-nya.
Semoga tulisan ini menjadi pemicu orang tua yang memiliki anak dengan tangan KIDAL, dan menjadi motivasi pemilik tangan KIDAL untuk terus berprestasi, percaya diri dengan perbedaannya.
-Refana Zahra Arthavi-
Foto Si Ade (tengah) ketika akan mengikuti lomba menari.
Foto Piala Si Ade | Lomba Mewarnai


